Minggu, 24 April 2011

mertua oh mertua

[Sarikata.com] Menjual keburukan mertua perempuan

Ananto Pratikno
Fri, 25 Mar 2005 21:46:42 -0800
Menjual keburukan mertua perempuan

"Dewi! Kamu tidak pake Surf ya?!" begitulah senggakan ibu 
mertuanya, ketika para tetangga bergosip kalau Dewi tidak 
lagi memakai Surf, karena deterjennya berbintik biru. Dan, 
ketika Dewi menjawab, "Pakai Bu," kemarahan si mertua pun 
lenyap. Dewi pun menjadi sosok menantu yang bijak dan 
layak dibanggakan.

Iklan serial Surf memang menggambarkan bagaimana 
kebanggaan seorang mertua pada menantunya, Dewi (Fenny 
Rose), yang mau memakai deterjen murah tapi bersih. Serial 
itu dimulai dari Dewi mau menikah, hamil, bahkan sampai 
punya anak kembar. Iklan ini bahkan sempat membuat Fenny 
Rose mendapat julukan "Si Menantu Bijak", karena selalu 
berhasil mendapatkan tempat di hati mertua.

Iklan ini memang menonjolkan kejudesan mertua untuk 
membuat image Surf meningkat. Surf diimajinasikan akan 
mampu menaklukkan mertua sejudes atau segalak mertua Dewi. 
Dan hasilnya, iklan itu memang menonjol, yang mungkin bisa 
menjadi indikator "penggerak" untuk menunjukkan 
popularitas produk tersebut.

Strategi mencitrakan mertua perempuan yang galak tak hanya 
dimonopoli Surf. Iklan kartu perdana Flexy pun memakai 
pendekatan yang sama. Adegan iklan diisi dengan dialog 
seorang ibu dengan anak lelakinya, yang mengintrograsi 
calon menantunya. Si ibu bertanya, "Cantik, nggak?" dan si 
anak menjawab, "Cantik, Ma." Ketika si ibu dengan mimik 
galak bertanya lagi, "Bisa ngatur duit, nggak?" Si anak 
pun teringat pada kebiasaan pacarnya saat memakai kartu 
ponsel, dan dengan yakin dia menjawab, "Bisa dong Ma, kan 
dia pakai Flexy." Hahaha...

Cukup? Belum. Ingat iklan yang menggambarkan kebingungan 
seorang wanita yang akan diperkenalkan pada calon mertua 
perempuannya. Ia tampak begitu ketakutan saat dibawa ke 
restoran itu. Apalagi, saat pandangan pertamanya 
bersirobok dengan seorang perempuan paro baya yang sangat 
galak. Tapi, ketika dia bertemu calon mertua, kecemasannya 
pupus. Wanita itu begitu terpesona dengan keputihan 
kulitnya. Ah, ternyata hal itu terjadi setelah dia memakai 
Ponds. Hebat.

Kegalakan mertua perempuan bahkan dikontraskan dengan 
keramahan mertua lelaki. Iklan Royco versi "Besok nengok 
cucu lagi, nggak?" misalnya, menggambarkan jelas citra 
itu. Ketika dengan wajah cemberut mertua perempuan 
bertanya, "Apalagi alasan kita?" dengan wajah berbinar, 
mertua lelaki berkata, "Nanti saya pikirkan. Pokoknya, 
saya ketagihan masakan mantu." Keseluruhan iklan ini tak 
pernah memperlihatkan wajah sumringah sang mertua 
perempuan. Sebaliknya, binar mata mertua lelaki menjadi 
fokus. Aneh.

Sampo Rejoice pun melakukan hal yang sama. Ingat versi 
"Mengenalkan ke mertua" yang menggambarkan si santi yang 
berjalan dengan tenang dan rambut yang 
panjang-lurus-berkilau? Rambutnya membuat "saingannya" 
berkomentar sinis, "Pasti baru direbounding." Dan, 
pertemuan itu sukses. Mertua galak berhasil ditundukkan.

Dan, ini yang terbaru, iklan kecap Bango, dengan lokasi di 
dapur, si menantu masak dengan mertua. Dan, sepanjang 
ajang itu, si menantu patuh penuh dengan arahan galak 
mertua, dari potongan daging, sampai cara menggoreng. Ia 
baru "berontak" saat mertua memilih kecap. "Yang lain 
boleh kompromi, tapi kalau kecap, saya tak mau yang lain." 
Dan sang mertua, puas.

Sisa puzzle

Menjual kegalakan mertua bukan hanya monopoli iklan. Meski 
tidak seheboh "jualan" ibu tiri, mertua yang galak pun 
menjadi pilihan banyak sinetron. Sejak 5 tahun lalu, citra 
mertua perempuan sadis mulai dilakukan. Dalam Harga Diri, 
Lulu Tobing amat tersiksa dengan mertua perempuan yang 
sangat membencinya. Serial Doa dan Anugerah, Doaku 
Harapanku yang memasang Krisdayanti, pada intinya 
menggambarkan usaha penaklukan pada kesinisan, kedengkian 
mertua perempuan. Bahkan, sinetron khusus Ramadan agaknya 
tak punya resep lain kecuali memainkan kedengkian ibu tiri 
dan mertua perempuan. Ikhlas yang dibintangi Tamara 
Bleszinsky juga memakai jurus itu. Untuk sinetron yang 
cukup baru, Ratapan Anak Tiri juga melakukan hal yang 
sama, menduetkan kedengkian ibu tiri dan mertua perempuan. 
Cara yang agak berbeda ditempuh sinetron 31/2 Wanita, yang 
memasang juga kejudesan mertua perempuan, meski kedengkian 
itu jatuh pada anaknya sendiri dan sinetron Kau dan Dia, 
kedengkian mertua perempuan karena harta, menimpa Luna 
Maya. Jika diamati lebih detil, akan tampak bahwa sosok 
mertua perempuan dalam sinetron selalu berwatak buruk dan 
dengki.

Meski iklan dan sinetron memiliki penggambaran yang 
sejenis tentang mertua perempuan, tapi pemicu kedengkian 
itu berbeda sebab. Dalam iklan misalnya, kegalakan mertua 
lebih didasarkan pada nilai ragawi. Ponds, Royco, Rejoice, 
Surf, Flexy, dan kecap Bango, mencitrakan mertua yang 
terpuaskan pada pilihan menatunya. Memilih Surf dan Flexy, 
artinya tahu berhemat. Memilih Royco dan Kecap Bango 
berarti mengerti cara menyenangkan mertua, dan juga tentu 
suami. Memilih Ponds dan Rejoice tentu bermakna tahu cara 
merawat diri. Keseluruhan nilai ini tampil dengan bagus 
dan halus. Meski hidden agenda, agenda terselubung, iklan 
ini adalah memancing pembeli, tapi citra yang dikemas 
justru non-ekonomis. Ada bagian puzzle yang disisakan 
pengiklan, dan harus diisi oleh penonton dengan cara 
membeli. Artinya, pilihan atas produk yang Anda pakai, 
menentukan citra diri Anda di depan mertua. Halus dan 
mengena.

Dalam sinetron, kenaifan mertua tampil dalam satu wajah 
saja, kerakusan pada harta. Kegalakan, kedengkian mertua 
perempuan hanya bersumber atas dasar takut kehilangan 
harta dan keinginan untuk menguasai harta. Dunia mertua 
perempuan dalam sinetron dibangun atas asumsi nilai 
ekonomis. Cerita pun dibangun dan berkembang semata dengan 
memanjangkan konflik atas harta itu saja. Seakan hal itu 
sudah menjadi pakem dalam penggambaran sinetron. 
Memualkan.

Diskriminasi atas sosok mertua perempuan ini memang tak 
banyak diperhatikan penonton. Apalagi, kadang, sosok 
mertua tak menjadi inti dari keseluruhan cerita. Namun, 
pelan, tanpa disadari, penggambaran karakter semacam itu 
akan mendiami teritori kesadaran penonton. Akan membangun 
suatu koloni citra di kepala, dan kelak membuat citraan 
televisi ini menjadi realitas benar. Dan, bukan suatu hal 
yang aneh, jika citra buruk mertua perempuan itu diumbar 
terus di televisi, kelak kedengkian mertua perempuan akan 
sama mitosnya dengan kejahatan ibu tiri. Uang memang dapat 
membuat orang menghalalkan segalanya, termasuk membuat 
citra sebuah keluarga dikotori dengan kejelekan sang 
mertua. Kita memang masih harus mengelus dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar