[Sarikata.com] Menjual keburukan mertua perempuan
Ananto PratiknoFri, 25 Mar 2005 21:46:42 -0800
Menjual keburukan mertua perempuan "Dewi! Kamu tidak pake Surf ya?!" begitulah senggakan ibu mertuanya, ketika para tetangga bergosip kalau Dewi tidak lagi memakai Surf, karena deterjennya berbintik biru. Dan, ketika Dewi menjawab, "Pakai Bu," kemarahan si mertua pun lenyap. Dewi pun menjadi sosok menantu yang bijak dan layak dibanggakan. Iklan serial Surf memang menggambarkan bagaimana kebanggaan seorang mertua pada menantunya, Dewi (Fenny Rose), yang mau memakai deterjen murah tapi bersih. Serial itu dimulai dari Dewi mau menikah, hamil, bahkan sampai punya anak kembar. Iklan ini bahkan sempat membuat Fenny Rose mendapat julukan "Si Menantu Bijak", karena selalu berhasil mendapatkan tempat di hati mertua. Iklan ini memang menonjolkan kejudesan mertua untuk membuat image Surf meningkat. Surf diimajinasikan akan mampu menaklukkan mertua sejudes atau segalak mertua Dewi. Dan hasilnya, iklan itu memang menonjol, yang mungkin bisa menjadi indikator "penggerak" untuk menunjukkan popularitas produk tersebut. Strategi mencitrakan mertua perempuan yang galak tak hanya dimonopoli Surf. Iklan kartu perdana Flexy pun memakai pendekatan yang sama. Adegan iklan diisi dengan dialog seorang ibu dengan anak lelakinya, yang mengintrograsi calon menantunya. Si ibu bertanya, "Cantik, nggak?" dan si anak menjawab, "Cantik, Ma." Ketika si ibu dengan mimik galak bertanya lagi, "Bisa ngatur duit, nggak?" Si anak pun teringat pada kebiasaan pacarnya saat memakai kartu ponsel, dan dengan yakin dia menjawab, "Bisa dong Ma, kan dia pakai Flexy." Hahaha... Cukup? Belum. Ingat iklan yang menggambarkan kebingungan seorang wanita yang akan diperkenalkan pada calon mertua perempuannya. Ia tampak begitu ketakutan saat dibawa ke restoran itu. Apalagi, saat pandangan pertamanya bersirobok dengan seorang perempuan paro baya yang sangat galak. Tapi, ketika dia bertemu calon mertua, kecemasannya pupus. Wanita itu begitu terpesona dengan keputihan kulitnya. Ah, ternyata hal itu terjadi setelah dia memakai Ponds. Hebat. Kegalakan mertua perempuan bahkan dikontraskan dengan keramahan mertua lelaki. Iklan Royco versi "Besok nengok cucu lagi, nggak?" misalnya, menggambarkan jelas citra itu. Ketika dengan wajah cemberut mertua perempuan bertanya, "Apalagi alasan kita?" dengan wajah berbinar, mertua lelaki berkata, "Nanti saya pikirkan. Pokoknya, saya ketagihan masakan mantu." Keseluruhan iklan ini tak pernah memperlihatkan wajah sumringah sang mertua perempuan. Sebaliknya, binar mata mertua lelaki menjadi fokus. Aneh. Sampo Rejoice pun melakukan hal yang sama. Ingat versi "Mengenalkan ke mertua" yang menggambarkan si santi yang berjalan dengan tenang dan rambut yang panjang-lurus-berkilau? Rambutnya membuat "saingannya" berkomentar sinis, "Pasti baru direbounding." Dan, pertemuan itu sukses. Mertua galak berhasil ditundukkan. Dan, ini yang terbaru, iklan kecap Bango, dengan lokasi di dapur, si menantu masak dengan mertua. Dan, sepanjang ajang itu, si menantu patuh penuh dengan arahan galak mertua, dari potongan daging, sampai cara menggoreng. Ia baru "berontak" saat mertua memilih kecap. "Yang lain boleh kompromi, tapi kalau kecap, saya tak mau yang lain." Dan sang mertua, puas. Sisa puzzle Menjual kegalakan mertua bukan hanya monopoli iklan. Meski tidak seheboh "jualan" ibu tiri, mertua yang galak pun menjadi pilihan banyak sinetron. Sejak 5 tahun lalu, citra mertua perempuan sadis mulai dilakukan. Dalam Harga Diri, Lulu Tobing amat tersiksa dengan mertua perempuan yang sangat membencinya. Serial Doa dan Anugerah, Doaku Harapanku yang memasang Krisdayanti, pada intinya menggambarkan usaha penaklukan pada kesinisan, kedengkian mertua perempuan. Bahkan, sinetron khusus Ramadan agaknya tak punya resep lain kecuali memainkan kedengkian ibu tiri dan mertua perempuan. Ikhlas yang dibintangi Tamara Bleszinsky juga memakai jurus itu. Untuk sinetron yang cukup baru, Ratapan Anak Tiri juga melakukan hal yang sama, menduetkan kedengkian ibu tiri dan mertua perempuan. Cara yang agak berbeda ditempuh sinetron 31/2 Wanita, yang memasang juga kejudesan mertua perempuan, meski kedengkian itu jatuh pada anaknya sendiri dan sinetron Kau dan Dia, kedengkian mertua perempuan karena harta, menimpa Luna Maya. Jika diamati lebih detil, akan tampak bahwa sosok mertua perempuan dalam sinetron selalu berwatak buruk dan dengki. Meski iklan dan sinetron memiliki penggambaran yang sejenis tentang mertua perempuan, tapi pemicu kedengkian itu berbeda sebab. Dalam iklan misalnya, kegalakan mertua lebih didasarkan pada nilai ragawi. Ponds, Royco, Rejoice, Surf, Flexy, dan kecap Bango, mencitrakan mertua yang terpuaskan pada pilihan menatunya. Memilih Surf dan Flexy, artinya tahu berhemat. Memilih Royco dan Kecap Bango berarti mengerti cara menyenangkan mertua, dan juga tentu suami. Memilih Ponds dan Rejoice tentu bermakna tahu cara merawat diri. Keseluruhan nilai ini tampil dengan bagus dan halus. Meski hidden agenda, agenda terselubung, iklan ini adalah memancing pembeli, tapi citra yang dikemas justru non-ekonomis. Ada bagian puzzle yang disisakan pengiklan, dan harus diisi oleh penonton dengan cara membeli. Artinya, pilihan atas produk yang Anda pakai, menentukan citra diri Anda di depan mertua. Halus dan mengena. Dalam sinetron, kenaifan mertua tampil dalam satu wajah saja, kerakusan pada harta. Kegalakan, kedengkian mertua perempuan hanya bersumber atas dasar takut kehilangan harta dan keinginan untuk menguasai harta. Dunia mertua perempuan dalam sinetron dibangun atas asumsi nilai ekonomis. Cerita pun dibangun dan berkembang semata dengan memanjangkan konflik atas harta itu saja. Seakan hal itu sudah menjadi pakem dalam penggambaran sinetron. Memualkan. Diskriminasi atas sosok mertua perempuan ini memang tak banyak diperhatikan penonton. Apalagi, kadang, sosok mertua tak menjadi inti dari keseluruhan cerita. Namun, pelan, tanpa disadari, penggambaran karakter semacam itu akan mendiami teritori kesadaran penonton. Akan membangun suatu koloni citra di kepala, dan kelak membuat citraan televisi ini menjadi realitas benar. Dan, bukan suatu hal yang aneh, jika citra buruk mertua perempuan itu diumbar terus di televisi, kelak kedengkian mertua perempuan akan sama mitosnya dengan kejahatan ibu tiri. Uang memang dapat membuat orang menghalalkan segalanya, termasuk membuat citra sebuah keluarga dikotori dengan kejelekan sang mertua. Kita memang masih harus mengelus dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar